Jumat, 23 Mei 2014

Melatih 'Simpanse Liverpool'

*tulisan ini dimiliki oleh @aabimanyuu dari @panditfootball


Kesuksesan Liverpool dalam melakukan loncatan dari posisi ketujuh menjadi runner-up Premier League seringkali dialamatkan pada kemampuan Brendan Rodgers dalam meracik strategi mematikan. Tapi, ada satu tokoh intelektual lain yang sebenarnya jadi sumber kekuatan para pemain Liverpool dalam menghadapi kerasnya perburuan gelar juara Liga Inggris. 

Dr. Steve Peters adalah tokoh itu. Ia adalah seorang psikolog yang bertanggung jawab untuk menjaga mental bertanding para pemain Liverpool.

Penampilan cemerlang pemain-pemain muda Liverpool pun disinyalir merupakan hasil kerja Peters. Misalnya saja dua pemain muda Liverpool, Jon Flannagan dan Raheem Sterling. Keduanya tampil sangat tenang dan percaya diri sepanjang musim layaknya pesepakbola yang lama mengarungi EPL. 

Padahal, Flannagan pada musim sebelumnya hanyalah bek sayap pelapis yang baru diturunkan ketika Liverpool tidak mempunyai pilihan lain. Pada musim ini, bek lulusan akademi Liverpool itu mampu mencatatkan 23 pertandingan dan sempat membuat frustrasi beberapa pemain besar Liga Inggris.

Sementara itu Raheem Sterling bisa dibilang jadi pemain muda yang mengalami peningkatan paling baik. Dulu Sterling hanyalah pemain sayap yang bisa berlari cepat namun kurang cerdas dalam mengalirkan bola. Banyaknya permasalahan di luar lapangan juga membuat pemain muda ini diprediksi hanya mengkilap sebentar. 

Tapi nyatanya ia telah mengalami perubahan drastis. Dengan tenang Sterling mampu memutuskan kapan harus melakukan dribbling, kapan harus mengoper, dan kapan harus menahan bola. Terlebih lagi, ia tak pernah ragu untuk melewati bek-bek lawan yang jauh lebih matang darinya. 

"Apa yang dilakukan Peters sangat brilian. Ia sangat mengerti setiap pemain dan emosi yang ada di pertandingan. Setiap kata-katanya sangat membantu," ujar Sterling. 

Pemain yang dibeli The Reds dari QPR ini menceritakan soal kejadian sebelum pertandingan melawan Manchester City di Anfield 13 April lalu. Sekitar 30 menit sebelum pertandingan, ia duduk berdua dengan Peters, dan mendengarkan beberapa perintah dari Peters yaitu untuk fokus pada bola dan tim.

Hasilnya Sterling berhasil menjalani pertandingan yang luar biasa. Dengan tenang ia mengecoh Joe Hart dan mencetak gol pembuka bagi Liverpool. Sterling juga yang kemudian menjadi man of the match pada pertandingan ini.

Tidak hanya pada pemain muda, para senior pun mengaku terbantu setelah menjalani treatment psikologis dari Peters. Sang kapten, Steven Gerrard, secara terang-terangan berkata bahwa ia tidak mungkin bisa menjalankan tugas baru sebagai defensive midfielder jika tidak ada Peters yang membuatnya bermain dengan kepala dingin.

"Steve Peters tidak membuat seorang pemain dapat berlari lebih cepat atau dapat melakukan putaran Cruyff atau dapat melakukan umpan panjang lebih akurat. Tapi saya dapat menjamin bahwa jika seorang pemain mau bekerja sama dengannya, ia dapat mempersiapkan mental sang pemain, terutama saat anda menghadapi tekanan," sang kapten menjelaskan bagaimana efek Peters untuk Liverpool.

Meski kerjanya seolah baru terlihat melalui Liverpool, ternyata Peters bukan orang baru di dunia olahraga Inggris. Sejak tahun 2000 Peters sudah menorehkan prestasinya dengan mendampingi tim olimpiade balap sepeda Great Britain. Hingga Olimpiade 2012 di London lalu tim balap sepeda Great Britain tidak pernah absen dalam menyumbangkan medali. Lagi-lagi hal ini juga disinyalir hasil ulah Peters yang dapat membuat para atlet bertanding dengan tenang.

Dengan prestasinya yang luar biasa ini, Manajer tim nasional Inggris Roy Hodgson pun lalu merekrutnya jadi staf timnas Inggris di Brasil nanti. Kutukan Inggris yang tidak pernah menang dalam adu penalti diharapkan dapat hilang dengan kehadiran Peters.

Mantan Manajer tim nasional Inggris Sven Goran Erikson, mengatakan bahwa kesalahan terbesarnya saat menangani The Three Lions adalah tidak membawa seorang psikiater. Para pemain Inggris disinyalir bermain kurang tenang sehingga melakukan kesalahan-kesalahan mendasar. Saat adu penalti pun para penendang Inggris tidak sekalem penendang dari negara lain.

Belajar dari Simpanse

Setelah melihat semua prestasi Peters, pertanyaannya kemudian adalah apa yang sebenarnya dilakukan Peters terhadap Liverpool dan tim olimpiade balap sepeda Great Britain?

Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat isi dari buku yang ditulis Peters. Semua penjelasan tentang apa-apa yang dilakukannya dituliska pada sebuah buku yang berjudul "Chimp Paradox: Mind Management". Teori simpanse (chimp) sering dikatakan Peters sebagai teori yang selalu diterapkannya kepada para atlet. Karena itulah orang sering mengatakan: "Steve Peters, from chimp to champ."

Di dalam bukunya Peters menjelaskan bahwa otak, sebagai pusat kendali tubuh manusia, memang memiliki struktur yang sangat kompleks. Namun, ia bisa membaginya menjadi 7 bagian. Dan dari ketujuh bagian itu, terdapat 3 bagian yang dihuni oleh komponen yang memengaruhi psikologis manusia dan menentukan sikap sehari-hari.

Komponen pertama adalah human (manusia). Dengan adanya komponen ini, Anda akan berperilaku layaknya sebagai manusia. Anda akan menggunakan logika Anda untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Ketika komponen ini bekerja, semua tindakan Anda dapat dijelaskan dengan akal sehat.

Komponen kedua adalah teknologi. Ini merujuk pada tempat semua data yang pernah masuk ke kepala tersimpan. Ketika data itu sudah sering muncul, terkadang komponen ini akan bekerja secara otomatis dan mengambil kendali diri Anda.


Komponen inilah yang kemudian harus Anda latih untuk memunculkan bakat. Gerakan-gerakan otomatis atau teknik-teknik yang Anda miliki saat ini adalah hasil latihan yang diberikan pada komponen teknologi dalam otak. Karena itu, Peters mengatakan bahwa komponen ini adalah komponen yang paling kuat diantara komponen lainnya. 

Dan komponen yang terakhir adalah tokoh utama yang dibicarakan Peters dalam bukunya, yaitu chimp atau simpanse. Ya, menurut Peters, setiap manusia memang menyimpan seekor simpanse di dalam otaknya. Komponen ini adalah komponen yang bertolak belakang dengan human (manusia). Ketika manusia bertindak sesuai logikanya, simpanse akan bertindak sesuai dengan emosi dan perasaan. 

Ketika sang simpanse mengambil alih, sering kali tidak ada penjelasan akal sehat dari tindakan Anda. Sayangnya, komponen simpanse dalam otak jauh lebih kuat dari komponen manusia, meski tidak sekuat komponen teknologi. Ini dengan catatan bahwa simpanse dapat bekerja kapanpun sementara komponen teknologi hanya akan bekerja pada saat aktivitas tersebut sudah tersimpan di dalam bank data otak Anda.

Karena itulah Anda akan lebih mudah untuk bertindak dipengaruhi emosi ketimbang logika. Hal ini sejalan penjelasan Peters soal komponen simpanse yang lebih kuat ketimbang komponen manusia di otak. 

Lalu apa maksud semua ini? Apa hubungannya simpanse di dalam otak dengan performa seorang atlet di lapangan?

Perlu dicatat bahwa Peters tidak mengatakan bahwa komponen simpanse adalah komponen yang negatif/jahat dan komponen manusia adalah positif/baik. Tidak ada yang baik atau buruk dari ketiga komponen tersebut. Ketiganya harus dibuat bekerja sinergis sehingga setiap tindakan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Dan inilah bagian yang terpenting dari pekerjaan Peters. Treatment yang dilakukan Peters adalah dengan membuat ketiga komponen yang ada di dalam otak dapat bekerja pada saat yang tepat.

Tidak banyak yang dilakukan Peters pada komponen teknologi, karena itu adalah hasil latihan yang dilakukan sang atlet. Maka komponen manusia dan simpanse lah yang harus diutak atik oleh Peters. 

Sekali lagi, kedua komponen ini tidak memiliki sifat jahat atau baik. Keduanya adalah komponen yang sama pentingnya. Maka dari itu, yang harus dilakukan adalah bukan mengurung simpanse ke dalam kandang, namun melatihnya.

Ini beberapa contohnya: saat Anda bertanding melawan musuh yang jauh lebih tangguh, komponen menusia akan mengatakan dengan logikanya bahwa Anda tidak akan bisa menang. Pada saat inilah Anda membutuhkan sang simpanse karena ia tidak pernah bergerak dengan logika, dan hanya berdasarkan emosi dan perasaan. Maka, tidak peduli sekuat apa musuh yang dihadapi, ia akan maju dengan gagah berani.


Namun membiarkan simpanse bergerak membabi buta juga bukan tindakan yang bijak. Di sinilah peran komponen manusia dimulai, yaitu untuk membuat tindakan simpanse tidak kelewat batas. Sesekali logika harus dimainkan untuk meluruskan tindakan simpanse jika mulai melenceng dari tujuan. 

Seperti inilah kurang lebih teori yang diterapkan Steve Peters di Liverpool. Tentu dalam pelaksanaannya akan jauh lebih rumit.

Dengan mulai dikenalnya Steve Peters di kalangan klub-klub sepakbola, Brendan Rodgers sendiri mulai khawatir jika ada klub yang ingin merebut Peters. Bahkan Rodgers sudah mulai memasang peringatan bahwa psikolog kelahiran Middlesbrough itu akan tetap bersama Liverpool pada musim depan.

"Ia memiliki peluang untuk bekerja di klub lain, tapi ia sangat senang berada di sini dan merupakan bagian penting bagi Liverpool. Di klub mana pun aku bekerja sebelumnya, selalu ada seorang ahli syaraf dan psikolog di dalam tim. Maka, ketika aku datang ke Liverpool, aku ingin yang terbaik ada di sini," ujar Rodgers.

Kerja Peters sendiri bersama Liverpool belum usai. Gagal juaranya The Reds karena kalah dan imbang di tiga pertandingan akhir tentu jadi tanda bahwa ada pekerjaan yang belum selesai. Bahwa "sang simpanse" masih perlu untuk terus dan terus menjalani latihan.

Rabu, 09 April 2014

Jersey Baru Liverpool 2014/2015

Warrior Sport kebocoran design jersey lagi-lagi, ingin launching besok malah sudah keduluan sama Twitter.


 Ini adalah foto yang seharusnya di launching besok (10/04/2014) tetapi sudah tersebar di Twitter

 Ini adalah foto lengkap nya, untuk Preview jersey Liverpool musim depan (termasuk jersey kiper) bisa baca disini: Bocoran Jersey Liverpool Musim 2014/2015

Untuk Review nya tunggu setelah peluncuran jersey resmi nya dari Warrior.

Senin, 07 April 2014

Terbang dan Bermimpi

Tulisan ini di tulis dan dimiliki oleh @amdfathan

Sekitar 1-4 musim kebelakan mungkin adalah musim-musim terburuk kita, bisa di bilang ketika pelatih kesayangan kita Rafa Benitez pergi dan masuknya J. W. henry kejayaan yang biasa kita rasakan melewati masa suram dengan pelatih Roy Hodgson

Walaupun juara Carling Cup bersama King Kenny kita tidak dapat merasakan kepuasan tersendiri untuk fans Liverpool, dan bahkan lebih parahnya lagi musim pertama Liverpool bersama Brendan Rodgers yang berakhir membuat kita mengakhiri musim di bawah Everton!



Yap! Brendan yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu di tendang sekarang Brendan di sayang. Dulu Brendan datang dengan penuh kepercayaan diri tinggi membawa filosofi Swansealona-nya yang terkenal ke tim papan tengah seperti Liverpool yang saat peninggalan King Kenny sangan bermain Dirrect Pass dengan striker Carrol, sayap Downing, dan midfield seperti Charlie Adam.

Brendan benar-benar ingin merubah ini semua dengan menjual hampir semua pemain pembelian King Kenny dan hanya menyisakan Suarez, Henderson, dan Downing pada awalnya dan akhirnya Stewart Downing pun pergi juga pada awal musim lalu.

Bagaimana Brendan pembelian brendan saat awal datang? Dia membeli seorang yang kita dulu juluki Welsh Xavi! Yap! Joe Allen! Sempat menjadi pemain terbaik di bulan-bulan awal sekarang dia hanya menjadi bahan cemoohan segilintir fans.

Dan lihat cara Brendan meramu taktik Liverpool musim ini? Dimana Tiki-Taka yang dia bilang dulu? Walaupun musim ini Brendan tetap ingin menguasai permainan, tetapi sangat berbeda dengan awal kepelatihannya, sekarang Brendan menyerang musuh seperti membelah pertahanan musuh dengan Coutinho yang sangat pintar, serta Henderson yang tak kenal lelah dan 3 pemain depan kita yang sangat cepat. Trio SSS sangat bisa memanfaatkan pertahanan lawan.

Di tambah lagi penjaga kedalaman seperti Lucas, Gerrard, Allen yang sekarang sangan fleksibel, dan bek kita yang berlapis lapis, dan Simon Mignolet dengan refleksnya, sekarang Liverpool menjelma jadi tim yang mengandalkan serangan balik dan trough pass yang mematikan dan yang terakhir disisa musim ini kita di buat terbang hingga langit ketujuh, memuncaki klasemen, serta di buat bermimpi, mungkin hanya Doa yang kita bisa berikan kepada Liverpool FC semoga kita tidak di buat jatuh atau pun di bangunkan dari mimpi kita!


 "Everything is possible for those who belive" YNWA! . #MakeUsDream @amdfathan

Rabu, 12 Maret 2014

Membangun Liverpool ala Dortmund

Liverpool FC sejak di akuisisi oleh Fenway Sports Group (FSG) mengalami pelonjakan performa, khususnya sejak Januari 2013.

John W. Henry memang tidak langsung membawa perubahan untuk klub Liverpool tercinta, langkah pertama setelah FSG "memiliki" Liverpool FC adalah memecat pelatih kaya akan pengalaman Roy Hodgson.

Setelah itu, melakukan skenario ala Lord of The Ring yaitu "The Return of The King" alias membawa kembali pemain terbaik Liverpool FC sepanjang masa, Kenny "King" Dalglish.

Ternyata duet King Kenny sebagai manager dan Damien Comolli sebagai direktur gagal total, pembelian yang terlalu mahal dan penampilan di atas lapangan jauh dari kata memuaskan membuat John W. Henry dengan berat hati harus mengucapkan selamat tinggal kepada mereka berdua, meski trofi piala liga 2012 berhasil di rengkuh Liverpool setelah sekian lama puasa gelar.





John W. Henry pun memutuskan mendatangkan manager muda sensasional dari Swansea, Brendan Rodgers. Musim pertama Rodgers di Premier League memunculkan sensasi sendiri karena cara mainnya yang selalu mempertahankan bola dari kaki ke kaki, jauh dari cara main klub Inggris secara umum, bahkan Swansea sempat disebut Swanselona karena cara mainnya mirip tiki-taka ala Barcelona.


Meski Rodgers menemui banyak sandungan di 6 bulan pertama, karena sulitnya memadukan filosofi bermainnya ke Liverpool akhirnya di bursa transfer selanjutnya Rodgers berhasil melengkapi puzzle permainannya di diri Daniel Sturridge dan Philippe Coutinho.


Sadar atau tidak, Rodgers banyak melepas pemain-pemain senior seperti Dirk Kuyt, Maxi Rodriguez, Stewart Downing, Charlie Adam, Joe Cole. Bahkan Pepe Reina di pastikan akan di jual di akhir musim usai masa peminjaman nya di Napoli habis, bahkan Glen Johnson pun terancam di jual jika ia masih kukuh menolak pemotongan gaji.


Apa tujuan FSG dan Rodgers menjual pemain-pemain senior milik Liverpool? Penghematan gaji.

Liverpool bahkan rela membayar pesangon untuk melepas Joe Cole secara paksa, karena setelah di hitung-hitung total gaji Joe Cole lebih mahal daripada pesangonnya.

Tetapi FSG rela memberikan kontrak baru ke Luis Suarez dengan nilai kontrak 2 kali lipat daripada sebelumnya, karena hanya pemain top saja yang akan diberikan gaji tinggi.


Masuk ke inti permasalahan, membangun Liverpool dengan cara yang dilakukan Dortmund ketika selamat dari krisis finansial di tahun 2007, tapi lihat sekarang, finalis Liga Champion musim lalu. Yang pasti Liverpool tidak akan menghabiskan proses selama itu untuk kembali menjadi King of Europa seperti di masa jaya nya, karena Liverpool tidak sampai mengalami krisis finansial, bukan?


Di musim lalu, QPR membeli banyak pemain bintang dan membayar mahal gaji pemainnya, sekitar £78m. Bandingkan dengan pengeluaran yang dibayar Dortmund untuk membayar gaji pemainnya, sekitar £60m!

QPR harus degradasi musim lalu, sedangkan Dortmund masuk final Liga Champion.

Memang musim lalu Liverpool harus membayar total gaji pemain sekitar £132m, 2 kali lipat daripada Dortmund. Tetapi, coba bandingkan dengan Man United - £181m dan Man City - £233m!


Tentu saja, Liverpool tidak akan menmbayar gaji pemain sekecil yang dibayar Dortmund, mengingat Dortmund bermain di Jerman sedangkan Liverpool di Inggris dan pihak Liverpool juga masih menunggu lampu hijau dari pemerintah kota Liverpool untuk merenovasi Anfield, pengeluaran akan besar yang pasti.





Ini kutipan Rodgers bulan April 2013:

"Lihatlah Borussia Dortmund, sebuah tim yang memenangkan Liga Champions (1996-1997) dan kemudian berjuang secara finansial."
"Mereka dibangun kembali dan itu membutuhkan empat sampai lima tahun untuk kembali pada jalur yang benar."
"Kecuali Anda melatih City atau Chelsea yang memiliki uang senilai £70-80m untuk satu musim panas, Anda membutuhkan cara yang berbeda."

Tetapi dengan cara yang sedikit mirip Dortmund, Liverpool memiliki talenta muda Inggris asli akademi (Raheem Sterling, Jon Flanagan, Jordon Ibe), memiliki talenta muda Inggris (Jordan Henderson, Daniel Sturridge, Joe Allen), talenta muda asing (Philippe Coutinho) dan seorang pemain bintang di diri Steven Gerrard dan Luis Suarez.
Tentu saja Liverpool tidak akan menjual pemain bintangnya ke tim rival seperti yang dilakukan Bayern kepada Dortmund.


Skuad ini hanya butuh beberapa puzzle yang hilang (khususnya di lini pertahanan yang menjadi sorotan) untuk di temukan di musim panas nanti dan Brendan Rodgers bersiap memetik hasil manis dari proyek yang sebenarnya sudah dimulai sejak Rodgers datang, dan setidaknya skuad ini sudah siap untuk beberapa tahun mendatang di tingkat teratas strata sepakbola Eropa, setidaknya itu yang diharapkan.

Sabtu, 15 Februari 2014

Saya Ingin Melihat Liverpool Meraih Gelar

Sebuah bacaan menarik saya baca di sebuah kolom opini dari Ian Holloway yang ia buat di website Mirror Sport, ini adalah terjemahannya:

"Brendan Rodgers has put his faith in young English stars and I'd love to see his Liverpool side win the title"


Jon Flanagan, Jordan Henderson, dan Raheem Sterling bisa menjadi pusat perhatian jika Liverpool bisa merengkuh title liga musim ini.
Pemain muda Inggris adalah kunci kebangkitan Liverpool



Saya sangat yakin ini adalah musim terbaik Premier League sepanjang masa, perburuan gelar juara berkembang menjadi pertarungan Big Four untuk dinobatkan menjadi yang terbaik.

Lika-liku pertandingan semua kontestan Premier League membuat kita semua tidak bisa sangat yakin dengan sebuah prediksi siapa yang juara musim ini.
Tapi saya akan sangat senang jika Liverpool lah yang merengkuh gelar juara.
Jika benar terjadi, ini akan menjadi rangsangan sempurna untuk armada Three Lions milik Roy Hodgson ketika menuju Brazil.

Brendan Rodgers juga bisa membuktikan bahwa Anfield bisa memproduksi pemain-pemain top asal negeri ini.
Ia juga bisa membuktikan bahwa standar kepelatihan manager British tidaklah seburuk yang orang-orang katakan.

Percayalah pada saya, bahwa pemain terbaik pun masih bisa dikembangkan kemampuannya jika mendapat bimbingan secara taktik dan teknis dari manager yang tepat.
Dan hal yang paling menyenangkan adalah Liverpool secara tidak diperhitungkan muncul sebagai penantang gelar juara dengan gaya bermain yang berusaha dipertahankan oleh Rodgers.

Rodgers tidak memiliki uang 10 juta untuk digunakan di bursa transfer, apa yang ia miliki ia bisa memaksimalkan dengan bijaksana - lihatlah Philippe Coutinho.
Ketenangannya dalam kasus Luis Suarez di musim panas lalu, juga tidak kalah brilian.


Tapi sebagian besar kesuksesan Liverpool di buat di tanah Britania Raya.
Steven Gerrard terus menjadi inspirasi, perannya di lini tengah yang lebih ditarik kedalam - umpannya ke Sturridge, membuat Sturridge bebas dan membuatnya dengan mudah mencetak gol ke gawang Fulham beberapa waktu yang lalu, membuat kita bisa menyamakan Gerrard dengan seorang pass-master diposisi itu, Andrea Pirlo.
Sturridge pun tak kalah sensasional, ia mencetak gol hanya dari satu kesempatan.

Meski banyak pemain yang cidera, dan Liverpool harus membayar mahal atas cidera nya Glen Johnson.
Karena tanpa cidera, bisa dipastikan trio Gerrard, Sturridge dan Johnson akan berangkat ke Inggris.

Tapi satu hal yang menghangatkan hati para orang Inggris adalah munculnya pahlawan tanpa tanda jasa dalam diri seperti Jordan Henderson, Raheem Sterling dan dalam diri Jon Flanagan.

Kelahiran kembalinya Jordan Henderson adalah kredit untuk dia dan managernya untuk tidak menyerah pada pemain yang kehilangan arah setelah harus ditebus dengan uang transfer yang besar.

Raheem Sterling secara brilian terus menerus meneror para defender-defender top berkelas Internasional di Premier League.

Sedangkan, Jon Flanagan bermain dengan keyakinan penuh melebihi seorang anak berusia 21 tahun.

Pemain-pemain muda ini adalah harapan masa depan dari timnas Inggris - mari berharap masa depan itu dimulai dari Piala Dunia di Brazil nanti.

Rodgers sama dengan manager Inggris lainnya yang di gaji oleh klubnya.
Tetapi, Rodgers jelas berkomitmen dalam mengembangkan bakat-bakat sebanyak mungkin, melalui akademi ataupun mendatangkan lewat bursa transfer. Memberikan seorang pemain sebesar Gerrard untuk menggunakan kemampuannya dalam menjalani peran yang berbeda di lapangan adalah percobaan besar.


Liverpool berhasil menghancurkan Arsenal 5-1 minggu lalu, dan ini adalah penampilan terbaik yang dilakukan sejauh ini oleh sebuah klub di Premier League musim ini. Tapi kemenangan 3-2 di Craven Cottage memberikan saya keyakinan bahwa klub benar-benar berada di jalur juara.

Dua kali Fulham berhasil mencuri poin saat berhadapan dengan klub Manchester.
Tetapi, Liverpool menunjukkan tekad dan keyakinan bahwa mereka akan menang dan berhasil memanfaatkan waktu dengan baik.

Chelsea, Manchester City dan Arsenal memang menunjukkan bahwa mereka adalah penantang gelar juara musim ini, tapi dalam 7 hari terakhir, Liverpool juga menunjukkan bahwa merekalah penantang juara.

Rodgers berkata benar ketika ia mengatakan bahwa klub ini masih dalam sebuah proses. Tetapi, aku tidak akan memilih untuk melawan mereka. Tidak musim ini, setidaknya kita belajar untuk berharap untuk sebuah hal yang tak pernah diduga sebelumnya.

***

Tulisan ini di buat oleh Ian Holloway, seorang manager muda milik Inggris yang pernah menukangi Crystal Palace, Blackpool saat di Premier League, ini adalah terjemahan dari artikel milik Mirror.

Tentu saja kami (Semua fans Liverpool) juga berharap untuk melihat Liverpool merengkuh titel Premier League untuk pertama kalinya. #YNWA

Sabtu, 08 Februari 2014

Bocoran Jersey Liverpool Musim 2014/2015

Tahun 2014 baru dibulan kedua, tetapi pihak Warrior Sports sebagai penyuplai jersey Liverpool kembali bocor design jersey terbarunya. Seakan tidak belajar dari pengalaman tetapi design jersey Warrior masih ganjil dilihat mata dibandingkan klub-klub Premier League lainnya.

Yang membocorkan jersey ini juga sama seperti musim lalu, yaitu akun @nocturnalvin di twitter.
sekitar 2-3 bulan sebelum rilis jersey Liverpool musim 2013/2014, ia sudah memiliki foto leaked jersey away dan third. Sehingga cukup rasanya untuk percaya bocoran design jersey dari nya kali ini.
Tentu saja bukan dia yang mendesign, tapi ia mengaku sudah melihat jersey-jersey ini secara langsung dan kemudian mendesainnya ulang lewat program komputer.




Jersey home masih berwarna merah dengan lis putih tipis, masih enak dipandang, karena jersey home Liverpool bikinan Warrior tidak pernah mengecewakan.

Jersey away menggunakan dominan warna kuning, dengan motif lis merah tipis, mengingatkan jersey away Liverpool musim 2006/2007, mungkin buruk dilihat designnya, tapi kelihatannya akan lebih baik saat sudah diproduksi jerseynya.



Jersey alternatif berwarna Hitam,. dengan garis abu-abu, entah kenapa tanpa warna merah di garis abu akan kelihatan lebih baik.

Jersey kiper terlihat mencontek warna dominan jersey kiper Liverpool di akhir-akhir tahun Adidas bersama Liverpool, Jersey Ungu mirip jersey kiper kedua Liverpool musim 2010/2011, sedangkan jersey berwarna hitam mirip jersey kiper Liverpool musim 2011/2012, dan jersey berwarna abu-abu mirip jersey kiper Liverpool msuim 2010/2011, dan ini mengingatkan saya akan Pepe Reina.



Sebenarnya apakah ini juga taktik dari Warrior untuk membuat Jersey yang tidak biasa agar brand nya bisa lebih terkenal di dunia persepakbolaan?

UPDATE!!
Rumour yang lain tentang design Jersey Liverpool musim depan.


Tapi saya meyakini bahwa design sebelumnya lah yang tepat, meski saya akui yang ini lebih bagus.

Kenapa Transfer Konoplyanka Gagal?

Bursa transfer musim dingin kemarin sungguh mendebarkan, khususnya di hari terakhir dimana Liverpool yang bernegoisasi untuk Yevhen Konoplyanka ternyata gagal mendapatkan tanda tangan, bukan tanda tangan pemain, melainkan tanda tangan pemilik klub Dnipro, Ihor Kolomoyskyi.



Sang pemilik klub sebenarnya sudah tidak punya pilihan untuk melepas pemain andalan klubnya tersebut, dia ingin mempertahankan si pemain untuk membantu klubnya di liga, dan tidak ada waktu lagi untuk mencari pengganti si pemain.

Di dalam kontrak Konoplyanka ada klausul penjualan dengan harga tertentu, dan Liverpool sudah sepakat menebusnya, tetapi Liverpool tidak memiliki waktu untuk melengkapi transaksi, yaitu pembayaran harga si pemain.

Ihor Kolomoyskyi tau bahwa ia tidak perlu mentandatangani dokumen penjualan Konoplyanka selama pihak Liverpool belum mengirim uangnya ke pihak Dnipro. Sebenarnya Liverpool memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan transfer, karena pihak klub sudah ada di Ukraina dari 2 hari sebelumnya.

Bahkan pihak klub sudah terlebih dahulu melakukan persetujuan pribadi dengan Konoplyanka, dan si pemain sendiri sudah melakukan tes medis dengan Liverpool di Ukraina, karena Liverpool juga mengirim doktor tim utama, Zaf Iqbal ke Ukraina.

Tapi mau bagaimana pun juga, Liverpool butuh tanda tangan Kolomoyskyi untuk menyelesaikan transfer Konoplyanka, tapi pihak Dnipro sengaja mengulur waktu hingga deadline transfer Premier League (Jam 2 pagi di Ukraina) ditutup. Selama pihak Liverpool tidak mengirim uangnya terlebih dahulu, maka pihak Dnipro tidak melanggar klausul atau hukum apapun, mungkin pihak klub berpikir untuk mengirim uang transfernya setelah si pemain resmi menjadi pemain Liverpool, mungkin.

Tapi, walau gagal mendapat Konoplyanka di Januari lalu, Liverpool diyakini masih akan mengejar si pemain di bursa transfer musim panas nanti, karena Konoplyanka memang target transfer Liverpool untuk musim depan awalnya. Si pemain sendiri sepertinya akan senang jika ada kesempatan kedua berseragam merah-merah.