Rabu, 09 April 2014

Jersey Baru Liverpool 2014/2015

Warrior Sport kebocoran design jersey lagi-lagi, ingin launching besok malah sudah keduluan sama Twitter.


 Ini adalah foto yang seharusnya di launching besok (10/04/2014) tetapi sudah tersebar di Twitter

 Ini adalah foto lengkap nya, untuk Preview jersey Liverpool musim depan (termasuk jersey kiper) bisa baca disini: Bocoran Jersey Liverpool Musim 2014/2015

Untuk Review nya tunggu setelah peluncuran jersey resmi nya dari Warrior.

Senin, 07 April 2014

Terbang dan Bermimpi

Tulisan ini di tulis dan dimiliki oleh @amdfathan

Sekitar 1-4 musim kebelakan mungkin adalah musim-musim terburuk kita, bisa di bilang ketika pelatih kesayangan kita Rafa Benitez pergi dan masuknya J. W. henry kejayaan yang biasa kita rasakan melewati masa suram dengan pelatih Roy Hodgson

Walaupun juara Carling Cup bersama King Kenny kita tidak dapat merasakan kepuasan tersendiri untuk fans Liverpool, dan bahkan lebih parahnya lagi musim pertama Liverpool bersama Brendan Rodgers yang berakhir membuat kita mengakhiri musim di bawah Everton!



Yap! Brendan yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu di tendang sekarang Brendan di sayang. Dulu Brendan datang dengan penuh kepercayaan diri tinggi membawa filosofi Swansealona-nya yang terkenal ke tim papan tengah seperti Liverpool yang saat peninggalan King Kenny sangan bermain Dirrect Pass dengan striker Carrol, sayap Downing, dan midfield seperti Charlie Adam.

Brendan benar-benar ingin merubah ini semua dengan menjual hampir semua pemain pembelian King Kenny dan hanya menyisakan Suarez, Henderson, dan Downing pada awalnya dan akhirnya Stewart Downing pun pergi juga pada awal musim lalu.

Bagaimana Brendan pembelian brendan saat awal datang? Dia membeli seorang yang kita dulu juluki Welsh Xavi! Yap! Joe Allen! Sempat menjadi pemain terbaik di bulan-bulan awal sekarang dia hanya menjadi bahan cemoohan segilintir fans.

Dan lihat cara Brendan meramu taktik Liverpool musim ini? Dimana Tiki-Taka yang dia bilang dulu? Walaupun musim ini Brendan tetap ingin menguasai permainan, tetapi sangat berbeda dengan awal kepelatihannya, sekarang Brendan menyerang musuh seperti membelah pertahanan musuh dengan Coutinho yang sangat pintar, serta Henderson yang tak kenal lelah dan 3 pemain depan kita yang sangat cepat. Trio SSS sangat bisa memanfaatkan pertahanan lawan.

Di tambah lagi penjaga kedalaman seperti Lucas, Gerrard, Allen yang sekarang sangan fleksibel, dan bek kita yang berlapis lapis, dan Simon Mignolet dengan refleksnya, sekarang Liverpool menjelma jadi tim yang mengandalkan serangan balik dan trough pass yang mematikan dan yang terakhir disisa musim ini kita di buat terbang hingga langit ketujuh, memuncaki klasemen, serta di buat bermimpi, mungkin hanya Doa yang kita bisa berikan kepada Liverpool FC semoga kita tidak di buat jatuh atau pun di bangunkan dari mimpi kita!


 "Everything is possible for those who belive" YNWA! . #MakeUsDream @amdfathan

Rabu, 12 Maret 2014

Membangun Liverpool ala Dortmund

Liverpool FC sejak di akuisisi oleh Fenway Sports Group (FSG) mengalami pelonjakan performa, khususnya sejak Januari 2013.

John W. Henry memang tidak langsung membawa perubahan untuk klub Liverpool tercinta, langkah pertama setelah FSG "memiliki" Liverpool FC adalah memecat pelatih kaya akan pengalaman Roy Hodgson.

Setelah itu, melakukan skenario ala Lord of The Ring yaitu "The Return of The King" alias membawa kembali pemain terbaik Liverpool FC sepanjang masa, Kenny "King" Dalglish.

Ternyata duet King Kenny sebagai manager dan Damien Comolli sebagai direktur gagal total, pembelian yang terlalu mahal dan penampilan di atas lapangan jauh dari kata memuaskan membuat John W. Henry dengan berat hati harus mengucapkan selamat tinggal kepada mereka berdua, meski trofi piala liga 2012 berhasil di rengkuh Liverpool setelah sekian lama puasa gelar.





John W. Henry pun memutuskan mendatangkan manager muda sensasional dari Swansea, Brendan Rodgers. Musim pertama Rodgers di Premier League memunculkan sensasi sendiri karena cara mainnya yang selalu mempertahankan bola dari kaki ke kaki, jauh dari cara main klub Inggris secara umum, bahkan Swansea sempat disebut Swanselona karena cara mainnya mirip tiki-taka ala Barcelona.


Meski Rodgers menemui banyak sandungan di 6 bulan pertama, karena sulitnya memadukan filosofi bermainnya ke Liverpool akhirnya di bursa transfer selanjutnya Rodgers berhasil melengkapi puzzle permainannya di diri Daniel Sturridge dan Philippe Coutinho.


Sadar atau tidak, Rodgers banyak melepas pemain-pemain senior seperti Dirk Kuyt, Maxi Rodriguez, Stewart Downing, Charlie Adam, Joe Cole. Bahkan Pepe Reina di pastikan akan di jual di akhir musim usai masa peminjaman nya di Napoli habis, bahkan Glen Johnson pun terancam di jual jika ia masih kukuh menolak pemotongan gaji.


Apa tujuan FSG dan Rodgers menjual pemain-pemain senior milik Liverpool? Penghematan gaji.

Liverpool bahkan rela membayar pesangon untuk melepas Joe Cole secara paksa, karena setelah di hitung-hitung total gaji Joe Cole lebih mahal daripada pesangonnya.

Tetapi FSG rela memberikan kontrak baru ke Luis Suarez dengan nilai kontrak 2 kali lipat daripada sebelumnya, karena hanya pemain top saja yang akan diberikan gaji tinggi.


Masuk ke inti permasalahan, membangun Liverpool dengan cara yang dilakukan Dortmund ketika selamat dari krisis finansial di tahun 2007, tapi lihat sekarang, finalis Liga Champion musim lalu. Yang pasti Liverpool tidak akan menghabiskan proses selama itu untuk kembali menjadi King of Europa seperti di masa jaya nya, karena Liverpool tidak sampai mengalami krisis finansial, bukan?


Di musim lalu, QPR membeli banyak pemain bintang dan membayar mahal gaji pemainnya, sekitar £78m. Bandingkan dengan pengeluaran yang dibayar Dortmund untuk membayar gaji pemainnya, sekitar £60m!

QPR harus degradasi musim lalu, sedangkan Dortmund masuk final Liga Champion.

Memang musim lalu Liverpool harus membayar total gaji pemain sekitar £132m, 2 kali lipat daripada Dortmund. Tetapi, coba bandingkan dengan Man United - £181m dan Man City - £233m!


Tentu saja, Liverpool tidak akan menmbayar gaji pemain sekecil yang dibayar Dortmund, mengingat Dortmund bermain di Jerman sedangkan Liverpool di Inggris dan pihak Liverpool juga masih menunggu lampu hijau dari pemerintah kota Liverpool untuk merenovasi Anfield, pengeluaran akan besar yang pasti.





Ini kutipan Rodgers bulan April 2013:

"Lihatlah Borussia Dortmund, sebuah tim yang memenangkan Liga Champions (1996-1997) dan kemudian berjuang secara finansial."
"Mereka dibangun kembali dan itu membutuhkan empat sampai lima tahun untuk kembali pada jalur yang benar."
"Kecuali Anda melatih City atau Chelsea yang memiliki uang senilai £70-80m untuk satu musim panas, Anda membutuhkan cara yang berbeda."

Tetapi dengan cara yang sedikit mirip Dortmund, Liverpool memiliki talenta muda Inggris asli akademi (Raheem Sterling, Jon Flanagan, Jordon Ibe), memiliki talenta muda Inggris (Jordan Henderson, Daniel Sturridge, Joe Allen), talenta muda asing (Philippe Coutinho) dan seorang pemain bintang di diri Steven Gerrard dan Luis Suarez.
Tentu saja Liverpool tidak akan menjual pemain bintangnya ke tim rival seperti yang dilakukan Bayern kepada Dortmund.


Skuad ini hanya butuh beberapa puzzle yang hilang (khususnya di lini pertahanan yang menjadi sorotan) untuk di temukan di musim panas nanti dan Brendan Rodgers bersiap memetik hasil manis dari proyek yang sebenarnya sudah dimulai sejak Rodgers datang, dan setidaknya skuad ini sudah siap untuk beberapa tahun mendatang di tingkat teratas strata sepakbola Eropa, setidaknya itu yang diharapkan.

Sabtu, 15 Februari 2014

Saya Ingin Melihat Liverpool Meraih Gelar

Sebuah bacaan menarik saya baca di sebuah kolom opini dari Ian Holloway yang ia buat di website Mirror Sport, ini adalah terjemahannya:

"Brendan Rodgers has put his faith in young English stars and I'd love to see his Liverpool side win the title"


Jon Flanagan, Jordan Henderson, dan Raheem Sterling bisa menjadi pusat perhatian jika Liverpool bisa merengkuh title liga musim ini.
Pemain muda Inggris adalah kunci kebangkitan Liverpool



Saya sangat yakin ini adalah musim terbaik Premier League sepanjang masa, perburuan gelar juara berkembang menjadi pertarungan Big Four untuk dinobatkan menjadi yang terbaik.

Lika-liku pertandingan semua kontestan Premier League membuat kita semua tidak bisa sangat yakin dengan sebuah prediksi siapa yang juara musim ini.
Tapi saya akan sangat senang jika Liverpool lah yang merengkuh gelar juara.
Jika benar terjadi, ini akan menjadi rangsangan sempurna untuk armada Three Lions milik Roy Hodgson ketika menuju Brazil.

Brendan Rodgers juga bisa membuktikan bahwa Anfield bisa memproduksi pemain-pemain top asal negeri ini.
Ia juga bisa membuktikan bahwa standar kepelatihan manager British tidaklah seburuk yang orang-orang katakan.

Percayalah pada saya, bahwa pemain terbaik pun masih bisa dikembangkan kemampuannya jika mendapat bimbingan secara taktik dan teknis dari manager yang tepat.
Dan hal yang paling menyenangkan adalah Liverpool secara tidak diperhitungkan muncul sebagai penantang gelar juara dengan gaya bermain yang berusaha dipertahankan oleh Rodgers.

Rodgers tidak memiliki uang 10 juta untuk digunakan di bursa transfer, apa yang ia miliki ia bisa memaksimalkan dengan bijaksana - lihatlah Philippe Coutinho.
Ketenangannya dalam kasus Luis Suarez di musim panas lalu, juga tidak kalah brilian.


Tapi sebagian besar kesuksesan Liverpool di buat di tanah Britania Raya.
Steven Gerrard terus menjadi inspirasi, perannya di lini tengah yang lebih ditarik kedalam - umpannya ke Sturridge, membuat Sturridge bebas dan membuatnya dengan mudah mencetak gol ke gawang Fulham beberapa waktu yang lalu, membuat kita bisa menyamakan Gerrard dengan seorang pass-master diposisi itu, Andrea Pirlo.
Sturridge pun tak kalah sensasional, ia mencetak gol hanya dari satu kesempatan.

Meski banyak pemain yang cidera, dan Liverpool harus membayar mahal atas cidera nya Glen Johnson.
Karena tanpa cidera, bisa dipastikan trio Gerrard, Sturridge dan Johnson akan berangkat ke Inggris.

Tapi satu hal yang menghangatkan hati para orang Inggris adalah munculnya pahlawan tanpa tanda jasa dalam diri seperti Jordan Henderson, Raheem Sterling dan dalam diri Jon Flanagan.

Kelahiran kembalinya Jordan Henderson adalah kredit untuk dia dan managernya untuk tidak menyerah pada pemain yang kehilangan arah setelah harus ditebus dengan uang transfer yang besar.

Raheem Sterling secara brilian terus menerus meneror para defender-defender top berkelas Internasional di Premier League.

Sedangkan, Jon Flanagan bermain dengan keyakinan penuh melebihi seorang anak berusia 21 tahun.

Pemain-pemain muda ini adalah harapan masa depan dari timnas Inggris - mari berharap masa depan itu dimulai dari Piala Dunia di Brazil nanti.

Rodgers sama dengan manager Inggris lainnya yang di gaji oleh klubnya.
Tetapi, Rodgers jelas berkomitmen dalam mengembangkan bakat-bakat sebanyak mungkin, melalui akademi ataupun mendatangkan lewat bursa transfer. Memberikan seorang pemain sebesar Gerrard untuk menggunakan kemampuannya dalam menjalani peran yang berbeda di lapangan adalah percobaan besar.


Liverpool berhasil menghancurkan Arsenal 5-1 minggu lalu, dan ini adalah penampilan terbaik yang dilakukan sejauh ini oleh sebuah klub di Premier League musim ini. Tapi kemenangan 3-2 di Craven Cottage memberikan saya keyakinan bahwa klub benar-benar berada di jalur juara.

Dua kali Fulham berhasil mencuri poin saat berhadapan dengan klub Manchester.
Tetapi, Liverpool menunjukkan tekad dan keyakinan bahwa mereka akan menang dan berhasil memanfaatkan waktu dengan baik.

Chelsea, Manchester City dan Arsenal memang menunjukkan bahwa mereka adalah penantang gelar juara musim ini, tapi dalam 7 hari terakhir, Liverpool juga menunjukkan bahwa merekalah penantang juara.

Rodgers berkata benar ketika ia mengatakan bahwa klub ini masih dalam sebuah proses. Tetapi, aku tidak akan memilih untuk melawan mereka. Tidak musim ini, setidaknya kita belajar untuk berharap untuk sebuah hal yang tak pernah diduga sebelumnya.

***

Tulisan ini di buat oleh Ian Holloway, seorang manager muda milik Inggris yang pernah menukangi Crystal Palace, Blackpool saat di Premier League, ini adalah terjemahan dari artikel milik Mirror.

Tentu saja kami (Semua fans Liverpool) juga berharap untuk melihat Liverpool merengkuh titel Premier League untuk pertama kalinya. #YNWA

Sabtu, 08 Februari 2014

Bocoran Jersey Liverpool Musim 2014/2015

Tahun 2014 baru dibulan kedua, tetapi pihak Warrior Sports sebagai penyuplai jersey Liverpool kembali bocor design jersey terbarunya. Seakan tidak belajar dari pengalaman tetapi design jersey Warrior masih ganjil dilihat mata dibandingkan klub-klub Premier League lainnya.

Yang membocorkan jersey ini juga sama seperti musim lalu, yaitu akun @nocturnalvin di twitter.
sekitar 2-3 bulan sebelum rilis jersey Liverpool musim 2013/2014, ia sudah memiliki foto leaked jersey away dan third. Sehingga cukup rasanya untuk percaya bocoran design jersey dari nya kali ini.
Tentu saja bukan dia yang mendesign, tapi ia mengaku sudah melihat jersey-jersey ini secara langsung dan kemudian mendesainnya ulang lewat program komputer.




Jersey home masih berwarna merah dengan lis putih tipis, masih enak dipandang, karena jersey home Liverpool bikinan Warrior tidak pernah mengecewakan.

Jersey away menggunakan dominan warna kuning, dengan motif lis merah tipis, mengingatkan jersey away Liverpool musim 2006/2007, mungkin buruk dilihat designnya, tapi kelihatannya akan lebih baik saat sudah diproduksi jerseynya.



Jersey alternatif berwarna Hitam,. dengan garis abu-abu, entah kenapa tanpa warna merah di garis abu akan kelihatan lebih baik.

Jersey kiper terlihat mencontek warna dominan jersey kiper Liverpool di akhir-akhir tahun Adidas bersama Liverpool, Jersey Ungu mirip jersey kiper kedua Liverpool musim 2010/2011, sedangkan jersey berwarna hitam mirip jersey kiper Liverpool musim 2011/2012, dan jersey berwarna abu-abu mirip jersey kiper Liverpool msuim 2010/2011, dan ini mengingatkan saya akan Pepe Reina.



Sebenarnya apakah ini juga taktik dari Warrior untuk membuat Jersey yang tidak biasa agar brand nya bisa lebih terkenal di dunia persepakbolaan?

UPDATE!!
Rumour yang lain tentang design Jersey Liverpool musim depan.


Tapi saya meyakini bahwa design sebelumnya lah yang tepat, meski saya akui yang ini lebih bagus.

Kenapa Transfer Konoplyanka Gagal?

Bursa transfer musim dingin kemarin sungguh mendebarkan, khususnya di hari terakhir dimana Liverpool yang bernegoisasi untuk Yevhen Konoplyanka ternyata gagal mendapatkan tanda tangan, bukan tanda tangan pemain, melainkan tanda tangan pemilik klub Dnipro, Ihor Kolomoyskyi.



Sang pemilik klub sebenarnya sudah tidak punya pilihan untuk melepas pemain andalan klubnya tersebut, dia ingin mempertahankan si pemain untuk membantu klubnya di liga, dan tidak ada waktu lagi untuk mencari pengganti si pemain.

Di dalam kontrak Konoplyanka ada klausul penjualan dengan harga tertentu, dan Liverpool sudah sepakat menebusnya, tetapi Liverpool tidak memiliki waktu untuk melengkapi transaksi, yaitu pembayaran harga si pemain.

Ihor Kolomoyskyi tau bahwa ia tidak perlu mentandatangani dokumen penjualan Konoplyanka selama pihak Liverpool belum mengirim uangnya ke pihak Dnipro. Sebenarnya Liverpool memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan transfer, karena pihak klub sudah ada di Ukraina dari 2 hari sebelumnya.

Bahkan pihak klub sudah terlebih dahulu melakukan persetujuan pribadi dengan Konoplyanka, dan si pemain sendiri sudah melakukan tes medis dengan Liverpool di Ukraina, karena Liverpool juga mengirim doktor tim utama, Zaf Iqbal ke Ukraina.

Tapi mau bagaimana pun juga, Liverpool butuh tanda tangan Kolomoyskyi untuk menyelesaikan transfer Konoplyanka, tapi pihak Dnipro sengaja mengulur waktu hingga deadline transfer Premier League (Jam 2 pagi di Ukraina) ditutup. Selama pihak Liverpool tidak mengirim uangnya terlebih dahulu, maka pihak Dnipro tidak melanggar klausul atau hukum apapun, mungkin pihak klub berpikir untuk mengirim uang transfernya setelah si pemain resmi menjadi pemain Liverpool, mungkin.

Tapi, walau gagal mendapat Konoplyanka di Januari lalu, Liverpool diyakini masih akan mengejar si pemain di bursa transfer musim panas nanti, karena Konoplyanka memang target transfer Liverpool untuk musim depan awalnya. Si pemain sendiri sepertinya akan senang jika ada kesempatan kedua berseragam merah-merah.

Jumat, 03 Januari 2014

Sisi Lain Luis Suarez Si Penyayang Keluarga

Suarez menyatakan bahwa Sofia, yang ia nikahi tahun 2009 lalu, sudah memberinya dorongan dan kepercayaan diri ketika ia masih bergulat di tim yunior klub pertamanya, Nacional.

Sepanjang kariernya sendiri, penyerang asal Uruguay itu dikenal cukup kontroversial. Kasus rasisme dengan Patrice Evra dan terakhir gigitan ke Brainslav Ivanovic.

Saat merumput di Belanda bersama Ajax pun ia pernah tersandung kasus serupa sehingga dilarang bertanding sebanyak tujuh pertandingan.

Jauh sebelum itu, di awal kariernya, Suarez ternyata juga sempat dirundung sejumlah masalah. Bergabung dengan Nacional, yang bermarkas di Montevideo, pada usia 9 tahun, Suarez sempat nyaris dilepas lima tahun berselang. Bahkan setelah dipertahankan, ia pun masih dihambat masalah kedisplinan.

"Sampai usia 12 tahun aku sudah tahu ingin bermain sepakbola, tapi setelah itu, dari usia 12 sampai 14, aku melewati sebuah fase di mana sepakbola tak berjalan mulus buatku dan aku tidak mau belajar. Saat itu aku tak suka berlatih," tutur Suarez dalam bukunya, Vamos Que Vamos.

"Aku cuma suka bermain dan dengan begitu amat sulit buatku untuk mencapai sesuatu. Aku benar-benar kesal. Saat itu aku menjadi pemberontak dan itu justru menghambatku," ujarnya.

Pada umur 15 tahun Suarez bertemu Sofia yang usianya tiga tahun lebih muda. Cinta mulai bersemi dan ini rupanya berimbas amat positif buat si pesepakbola.

"Itu adalah sebuah perubahan besar dalam setiap hal. Saat itu aku amat malas belajar dan ia membantuku menyadari bahwa keadaan tak berjalan baik bukan karena aku bodoh melainkan karena aku bertindak masa bodoh."

"Aku lalu mulai mencetak gol. Dan aku sampai ke titik di mana aku nyaris memecahkan rekor di tim junior Nacional. Rekor dalam setahun penuh adalah 64 gol dan aku membuat 63. Hal-hal seperti itu memberi Anda kepercayaan diri," kenang Suarez.

Ketika Sofia kemudian pindah ke kota Barcelona, Suarez pun jadi punya motivasi ekstra untuk menembus tim inti Nacional dan menguak peluang pindah ke Eropa, agar memudahkannya untuk bisa bersama-sama lagi dengan si pujaan hati.

"Saat itulah aku mulai menyadari jika aku ingin ada di sisinya maka aku harus bekerja keras. Aku harus terbangun. Jadi aku mulai bekerja keras melampaui yang mesti aku lakukan. Karena urusan uang aku tidak bisa ke sana dengan gratis, demikian pula untuknya datang ke sini. Jadi aku harus berlatih maksimal agar bisa ke Eropa," tegasnya.

Debut Suarez untuk Nacional lantas dijalani pada 2005 ketika usianya 18 tahun. Setahun berselang impiannya membela klub Eropa terwujud usai ia direkrut klub Belanda Groningen. Ia pun mengakui bahwa dirinya kini sudah menjadi sosok yang amat sarat dengan tekad, di dalam dan di luar lapangan.

"Jika saat itu kepindahan belum terwujud, aku ingin terus berusaha, lagi dan lagi. Aku amat sangat ingin mencetak gol. Dan aku kira buatku begitu pula halnya dalam kehidupan. Jika aku menginginkan sesuatu maka aku benar-benar sangat menginginkannya. Dan jika aku tak mendapatkannya aku akan kesal," tambah Suarez.

Rupanya Sofia rajin menasihati Luis Suarez agar ia selalu bertindak sepatutnya. Suarez pun mengaku senantiasa berusaha menuruti nasihat itu agar tak mengecewakan istri tercinta.

Sofia sering memberitahunya agar fokus ke permainan sepakbolanya dan tidak usah membuat masalah, baik dengan ofisial maupun pemain lawan.

"Istriku selalu membuat pengamatan-pengamatan seperti, 'Kamu terlalu banyak berdebat dengan wasit dan pemain bertahan; kamu tidak terlihat bersemangat; sekalian saja kamu tak usah ada di lapangan'," kata Suarez seperti dikutip Sky Sports.

"Aku beranjak, memikirkannya, dan menyadari ia benar. Ia bilang orang terkadang harus mengambil jarak dan berpikir, itulah yang aku lakukan di luar lapangan meskipun aku biasanya rileks dan santai."

"Memiliki istri yang tekun menyaksikan pertandingan itu bagus. Ia mengenalku lebih baik dari siapapun dan aku ingin pengamatannya membantuku bermain lebih baik dan menjadi orang yang lebih baik," paparnya.

"Ia adalah pengkritik terbesarku, ia selalu datang dan menyaksikan pertandinganku," katanya ketika itu.

"Ia menegurku, apa yang aku aku lakukan, kenapa aku berdebat dengan wasit. 'Yang kamu lakukan hari ini cuma datang dan meneriaki orang-orang, kenapa kamu tidak berkonsentrasi main sepakbola saja?'"

"Jika aku tidak menurutinya, mereka (Sofia dan putri mereka, Delfina) tidak lagi mau menyaksikanku bermain. Inilah yang diperhatikan istriku dan juga oleh semua orang lain, jadi itu sudah membuatku berpikir," tutur Suarez saat itu.